Pages

Wednesday, October 3, 2012

Faktor Penyebab Gizi Buruk

Alternatif Pemecahan Masalah Gizi Buruk 

Masalah  gizi  buruk  hingga saat ini maasih merupakan masalah kesehatan masyarakat serius di Indonesia. Akbibat gizi buruk pada balita, mereka akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun kecerdasan. Pada tingkat kecerdasan, dikarenakan tumbuh kembang otak hampir 80% terjadi pada masa dalam kandungan sampai usia 2  tahun, maka akibat masalah gizi buruk ini dapat berpengaruh sangat serius terhadap tingkat kecerdasan penderita.  Diperkirakan Indonesia telah kehilangan Intelligence Quotient (IQ) 220 juta IQ poin dan penurunan produktivitas hingga 20-30%.

Gizi buruk merupakan keadaan kurang gizi pada tingkatan yang sudah berat, yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari. Secara langsung keadaan gizi dipengaruhi oleh ketidak cukupan asupan makanan dan penyakit infeksi. Sedangkan penyebab tidak langsung karena kurangnya ketersediaan pangan pada tingkat rumah tangga, pola asuh yang tidak memadai serta masih rendahnya akses pada kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat. Lebih lanjut masalah gizi disebabkan oleh kemiskinan, pendidikan rendah dan minimnya kesempatan kerja (UNICEF, 1998).

Penyebab lain timbulnya masalah gizi buruk, disamping kemiskinan dan kurangnya ketersediaan pangan, juga karena kurang baiknya sanitasi dan pengetahuan tentang gizi, serta tidak tercukupinya menu seimbang pada konsumsi. Banyak penelitian yang mengungkapkan  bahwa  faktor  sosio-budaya  sangat  berperan  dalam  proses konsumsi pangan dan  terjadinya masalah gizi. Kebiasaan makan keluarga dan susunan hidangannya merupakan  salah  satu manifestasi kebudayaan  keluarga yang  disebut  gaya  hidup.  Unsur-unsur  budaya  mampu  menciptakan  suatu kebiasaan  makan  yang  kadang  bertentangan  dengan  prinsip-prinsip  ilmu  gizi.

Sementara pendapat lain menyebutkan, bahwa faktor- faktor penyebab gizi buruk jika  dilihat  dari  tingkatan penyebab gizi buruk, dibagi menjadi penyebab langsung, penyebab tidak langsung dan penyebab mendasar.
  1. Penyebab  langsung  merupakan  faktor  yang  langsung  berhubungan dengan kejadian gizi buruk dan adanya penyakit. Interaksi antara asupan gizi  dan  infeksi  akan  saling menguatkan  untuk memperburuk  keadaan. Sehingga akan berakibat fatal penyebab kematian dini pada anak-anak.
  2. Penyebab  tidak  langsung  merupakan  faktor  yang  mempengaruhi penyebab  langsung. Seperti akses mendapatkan makanan yang kurang, perawatan  dan  pola  asuh  anak  kurang  dan  pelayanan  kesehatan  serta lingkungan  buruk  atau  tidak  mendukung  kesehatan  anak-anak.  Faktor inilah  yang  akan  mempengaruhi  buruknya  asupan  makanan  atau  gizi anak dan terjadinya infeksi pada anak-anak.
  3. Penyebab mendasar terjadinya gizi buruk terdiri dari dua hal, yakni faktor sumber  daya  potensial  dan  yang  menyangkut  sumber  daya  manusia. Pengelolaan sumber daya potensial sangat erat kaitannya dengan politik dan idiologi, suprastruktur dan struktur ekonomi. Sementara sumber daya berkaitan erat dengan kurangnya pendidikan rakyat.
Masalah gizi  tidak terbatas pada gizi buruk, namun juga gizi kurang. Masalah gizi sering terjadi pada anak–anak khususnya pada balita. Sebagian besar balita yang menderita masalah gizi kurang, cenderung cepat berkembang menjadi gizi buruk setelah disapih atau pada masa transisi. Pada kondisi ini, resiko kematian lebih tinggi dari pada anak–anak yang berstatus gizi baik. Keadaan gizi kurang, terutama gizi buruk menurunkan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit, terutama infeksi. Keadaan ini juga dapat mangganggu pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan jaringan otak yang akan mengurangi kualitas sumber daya manusia Indonesia, selain itu kita ketahui bahwa anak merupakan tunas bangsa yang kelak menjadi sumber daya manusia yang dapat diandalkan.

Masalah gizi, sebagian besar menimpa pada keluarga miskin. Hingga saat  ini, selain kasus  gizi  buruk yang masih  ditemukan, juga kasus gizi buruk lama yang sudah dilakukan penanganan, penting untuk tetap diperhatiakn agar kemungkinan kondisi  status  gizi  tidak  kembali memburuk.  Beberapa penelitian menyimpulkan, bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendapatan keluarga dengan asupan protein. Semakin tinggi pendapatan asupan protein pada balita cenderung tinggi, demikian sebaliknya. Kondisi ini sangat mempermudah penjelasan, hubungan kemiskinan dengan gizi buruk ini.

Keadaan  ekonomi  keluarga  berpengaruh besar  pada  konsumsi  pangan,  terutama  pada  golongan  miskin.  Hal  ini disebabkan karena penduduk golongan miskin menggunakan sebagian besar pendapatan untuk memenuhi kebutuhan makanan. Dua peubah  ekonomi yang cukup dominan sebagai determinan konsumsi pangan yaitu pendapatan keluarga  dan  harga.  Apabila    pendapatan meningkat  berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. Pendapatan  rendah  pada  keluarga  gizi  buruk  tentu  mengalami kesulitan  dalam mengatur  keuangan  rumah  tangga  dalam  pemenuhan  gizi balita.  Pendapatan  yang  kurang,  sebenarnya  dapat  ditutupi  jika  keluarga tersebut mampu mengolah  sumberdaya  yang  terbatas,  antara  lain  dengan kemampuan memilih bahan makanan yang murah tetapi bergizi dan distribusi makanan yang merata dalam keluarga.

Penyebab langsung KEP adalah kurang makanan dan infeksi penyakit. KEP pada anak timbul tidak hanya karena kurang  makanan, tetapi juga karena infeksi penyakit. Pada kenyataan di lapangan, kombinasi keduanya (kurang makanan dan infeksi penyakit) merupakan penyebab KEP. Penyebab tidak langsung adalah ketahanan pangan di tingkat keluarga, pola asuh anak serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan. Pola pengasuhan sangat dibutuhkan oleh anak dalam memberikan perhatian, penyediaan waktu dan memberi dukungan anak agar tumbuh berkembang dengan baik.

Krisis ekonomi sangat terasa  di pedesaan, sehingga status gizi balita di pedesaan lebih buruk dibandingkan dengan balita di perkotaan Masyarakat desa yang tempat tinggalnya di pelosok desa berbeda secara bermakna dengan masyarakat di pinggir jalan besar dalam hal kunjungan mereka ke posyandu. Hal ini sangat berpengaruh terhadap status gizi balita mereka Tingkat ekonomi masyarakat yang rendah merupakan penyebab gizi buruk Akibat lanjut dari gizi buruk  adalah timbulnya berbagai penyakit ikutan. Salah satu faktor risiko terjadinya pneumonia pada anak balita adalah gizi buruk. Anak  balita dengan status gizi buruk mempunyai faktor risiko  terkena pneumonia 4 kali lipat dibandingkan dengan anak anak balita balita dengan  status gizi baik.

Alternatif Penyelesaian Masalah

Upaya penanggulangan yang telah dilakukan oleh pemerintah antara lain seperti peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi melalui program Pemberian Makanan Tambahan  (PMT) atau Makanan Pendamping Air Susu  Ibu  (MP-ASI), tatalaksana gizi buruk di puskesmas perawatan dan  rumah sakit, serta Kadarzi atau  pemberdayaan masyarakat melalui  keluarga  sadar gizi.