Pages

Monday, June 4, 2012

Masalah Gizi di Indonesia


Gizi dan Masalah Gizi di Indonesia

Menurut Almatsier (2002), zat gizi (nutrients) adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses- proses kehidupan. Sedangkan menurut Soekiman (2000), zat gizi adalah zat kimia yang terdapat dalam makanan yang diperlukan manusia untuk memelihara, menjaga dan meningkatkan kesehatan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa zat gizi adalah bahan­bahan kimia yang diperlukan tubuh untuk hidup, tumbuh, bergerak dan menjaga kesehatannya, dan sumber bahan-bahan kimia itu berasal dari makanan.

Jumlah zat gizi yang dikenal saat ini sebanyak 45 jenis, dan dikelompokkan menjadi zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak, yang merupakan zat gizi sumber energi. Zat gizi yang dikelompokkan ke dalam zat gizi mikro antra lain vitamin, mineral dan air yang merupakan zat gizi pembangun dan pengatur Karbohidrat sebagai sumber energi utama berguna untuk aktivitas sel-sel tubuh, karbohidrat dalam makanan dan minuman diubah menjadi bentuk yang lebih sederhana (glukosa, fruktosa dan galaktosa).

Masalah gizi adalah gangguan pada perorangan atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Masalah gizi makro, terutama masalah kurang energi protein, merupakan masalah yang mendominasi perhatian dunia. Kekurangan konsumsi protein mengakibatkan berbagai penyakit. Pola konsumsi protein yang sesuai dengan kebutuhan seseorang sangat bermanfaat untuk daya tahan jantung. Konsumsi zat Fe juga bermanfaat bagi daya tahan jantung dan paru-paru. Semakin tinggi konsumsi Fe pada seorang atlet, semakin tinggi daya tahan jantung dan paru-parunya

Beberapa masalah gizi yang penting antara lain kurang protein, kurang energi atau kombinasi kurang energi dan protein. Juga  masalah gizi mikro, khususnya masalah kurang vitamin A, kurang zat yodium, kurang zat besi dan kurang zat seng. Selain itu, mulai muncul masalah gizi lebih, yaitu kelebihan konsumsi energi yang bersumber dari lemak.

Berdasarkan sudut pandang zat gizi, masalah gizi dibedakan menjadi masalah gizi makro dan masalah gizi mikro. Masalah gizi makro dapat berbentuk gizi kurang dan gizi lebih, sedangkan untuk masalah gizi mikro hanya dikenal gizi kurang. Masalah gizi makro yang sering disebut kurang energi protein (KEP) adalah salah satu masalah gizi kurang akibat konsumsi makanan yang tidak cukup mengandung energi dan protein serta karena gangguan kesehatan.

Golongan penduduk yang rawan terhadap kekurangan gizi termasuk rawan terkena KEP adalah balita, ibu hamil dan ibu menyusui. Terkait dengan hal ini, kita mengenal beberapa istilah kurang energi protein dan gizi buruk, seperti marasmus dan Kwashiorkor.

Menurut Depkes R.I. (2006), untuk mengenali tanda-tanda klinis anak balita yang menderita gizi buruk kwashiorkor adalah dengan memeriksa fisik tubuh balita. Anak balita yang menderita kwashiorkor memiliki ciri-ciri fisik sebagai berikut:
  1. Pembengkakan (edema) pada seluruh tubuh terutama pada punggung kaki
  2. Bentuk wajah bulat (moon face) dan kelihatan sembab
  3. Perilaku cengeng, rewel dan apatis
  4. Perut buncit (ascites)
  5. Rambut kusam dan mudah dicabut
  6. Terdapat bercak kulit yang luas dan berwarna kehitaman/bintik kemerahan

Sedangkan tanda-tanda balita penderita marasmus antara lain memiliki ciri­ ciri fisik sebagai berikut:
  1. Tubuh tampak sangat kurus
  2. Wajah tam pak seperti orang tua
  3. Perilaku cengeng, rewel dan apatis
  4. Bentuk iga gambang, perut cekung
  5. Otot pantat mengendor (baggy pant)
  6. Terjadi penyusutan (atrofi) otot lengan dan tungkai

Refference :
  • Almatsier, S. (2002), Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  • Soekirman (2000), Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas RI, Jakarta.